Monday, 31 October 2011

DAMPAK BESAR FILM INDONESIA TERHADAP PROSES KREATIF SEGELINTIR MUDA MUDI INDONESIA.



Slamet Raharjo & Christine Hakim dalam film Badai Pasti Berlalu 1977

 DAMPAK BESAR FILM INDONESIA 
TERHADAP  PROSES KREATIF SEGELINTIR
MUDA MUDI INDONESIA.

Halo semuanya, kali ini saya akan sedikit bercerita bagaimana karya film klasik nasional, memiliki dampak yang besar bagi proses kreatifitas kaum muda di Indonesia. Banyak sedikitnya pengalaman proses kreatifitas ini saya lakukan secara kerja tim dalam project bersama, sebuah group musik, White Shoes & The Couples Company.


Musik White Shoes & The Couples Company sendiri banyak terinspirasi dari soundtrack film nasional masa lalu. Seperti film Tiga Dara (1956), Badai Pasti Berlalu (1977), Ali Topan Anak Jalanan (1977) dan Gita Cinta dari SMA (1979). Walaupun kami juga banyak terpengaruh referensi musik dari luar, tapi sebagian besar inspirasi musik White Shoes didapat dari mendengarkan rekaman musisi-musisi Indonesia. Antara lain gubahan Ismail Marzuki, Guruh Sukarno Putra, dan Jack Lesmana.

Sedangkan film-film menjadi latar belakang referensi konsep visual. Semua kreasi visual dibuat demi tujuan dan kepuasan artistik.

Karena musiknya sendiri adalah musik pop Indonesia, untuk menampilkan gaya artistik-nya, kami banyak mengacu dari karya-karya visual populer yang khas Indonesia. Benang merahnya adalah nostalgia kehidupan sosial masyarakat di Indonesia. Dari sini kami mencari referensi dengan melihat album photo orang tua kami, album photo lama milik teman-teman, dokumentasi atau arsip foto masa lalu dan juga melihat koleksi majalah-majalah lama.

Bahan-bahan ini kami dapat dari orang tua, keluarga, teman serta mencarinya di pasar loak. Selain itu, kami juga menonton film-film klasik Indonesia dan tentunya mendengarkan album-album rekaman musik Indonesia masa lalu. Semua proses ini akhirnya sangat membantu kami dalam mendapatkan inspirasi.

Mungkin beberapa teman-teman masih familiar dengan judul film ” Tiga Dara” dan “Asrama Dara”?  Kalaupun teman-teman tidak mengenali, itupun tidak menjadi masalah karena kedua film ini sudah dibuat lama sekali, tepatnya di tahun 1950-an.

Kedua film ini disutradarai oleh H.Usmar Ismail. Keduanya adalah film hitam putih dan juga film musikal.

Bercerita tentang kehidupan wanita muda di era tersebut, film Tiga Dara dibintangi oleh Chitra Dewi, Mieke Wijaya dan Indriati Iskak. Pertama kali saya menyaksikan Tiga Dara adalah ketika masih duduk di bangku SMP. Kala itu saya tidak menyangka bahwa Indonesia memiliki film musikal yang sangat bagus.

Ya, hingga kini, menurut saya pribadi belum ada film musikal Indonesia yang bisa menandingi “Tiga Dara” dan “Asrama Dara” buatan H.Usmar Ismail. Saya pun sangat mengidolakan semua unsur pada film ini. Mulai dari setting-nya, musiknya, lagu-lagunya, koreografi tariannya, aktris dan aktornya.

Tapi, bagi saya, kostum, dandanan dan gaya penataan rambut pemeran adalah unsur yang paling istimewa. Semuanya terlihat begitu pas, tidak kurang dan juga tidak berlebihan.

Film lainnya yang juga menarik perhatian saya adalah film garapan Teguh Karya yang berjudul “Cinta Pertama” dan “Badai Pasti Berlalu”, kedua film tersebut di bintangi oleh Christine Hakim. Sosok Christine Hakim dalam kedua film ini bisa dibilang cukup banyak mempengaruhi konsep berpakaian dan berdandan saya beserta Mela (rekan di WSATCC). Sedangkan gaya berpakaian rekan-rekan lainnya yang kebanyakan memang laki-laki bisa dibilang sedikit banyak terinspirasi juga dari karakter-karakter pria dalam beberapa film diatas.
Indriati Iskhak, Citra Dewi & Mieke Wijaya dalam film Tiga Dara

Christine Hakim & Roy Mateen dalam film Badai Pasti Berlalu 1977

Persamaan dari kelima judul film yang saya sebutkan tadi adalah, Semuanya memiliki kaitan yang erat dengan musik! Seluruh original soundtrack nya di tulis dengan sangat indah dan hingga kini menjadi karya klasik nasional.

Disamping itu, semua karakter yang ada di kelima film tersebut bisa dibilang ikonik dan kharismatik. Seperti Junaedy Salat dalam Ali Topan Anak Jalanan yang digambarkan sebagai bad boy, Slamet Rahardjo yang dandy dalam Cinta Pertama dan Roy Marten yang bergaya khas cowok mahasiswa 1970a-an, gondrong tanggung ala Jim Morisson lengkap dengan aksesoris kendaraan bermotornya.

Begitu pula dengan karakter wanita dalam kelima film diatas, Chitra Dewi, Mieke Wijaya dan Indriati Iskak dalam Tiga Dara memiliki 3 karakter berbeda. Meski begitu, ketiganya sangat fashionable. Mulai kebaya yang pada kala itu sangatlah umum di kenakan hingga desain busana modern seperti celana capri, anting-anting berbentuk gelang hingga sack dress yang sangat menawan. Pada beberapa adegan bahkan, ketiga wanita hebat tersebut sempat mengenakan bikini dengan potongan yang cukup stylish khas 1950-an.


Sedangkan film-film di era 1970-an, aktris yang menjadi panutan memang melimpah ruah. Namun ada beberapa aktris yang kami sering jadikan referensi. Mereka adalah Christine Hakim dalam film Cinta Pertama dan Badai Pasti Berlalu serta Yati Octavia dalam film Ali Topan Anak Jalanan. Keduanya memiliki karakter wajah lokal yang khas, itu mungkin alasannya mengapa mereka menjadi inspirasi kami dalam berpakaian diatas panggung. Perpaduan visual yang khas antara paras wajah lokal yang melebur dengan budaya pop sendiri hingga kini tetap menjadi panutan fashion White Shoes & The Couples Company diatas panggung.

Begitulah kira-kira bagaimana film nasional memberi pengaruh terhadap proses kreatifitas kami diatas panggung, begitu banyak warisan seni budaya Indonesia dimasa lampau yang bisa dijadikan sumber inspirasi. Foto-foto di dalam album foto keluarga juga merupakan warisan budaya, atau pun pakaian-pakaian di lemari tua milik kakek dan nenek. Hingga hunting majalah lama di kios buku-buku bekas atau bentuk dokumentasi lainnya yang dapat memberikan inspirasi.

Terimakasih sudah mau menyimak tulisan ini hingga selesai, sampai jumpa di postingan berikutnya. 


Salam Hangat Selalu,

Aprilia Apsari


tulisan ini ditulis Jum'at 28 Oktober 2011,  untuk situs langitmusik.com dan di edit kembali bagian introduksi-nya untuk postingan ini, 6 Oktober 2013.

2 comments:

kuwacikecil said...

TIGA DARA!! taun 2000an awal itu pernah dipentasin, dibikin teater lho, nyah!! aku main jadi si neni -nya hiaihhia!!! *dan bener bener menikmati dialeknya dan tentu sajaa proses berburu kostumnyaa!! ihhi

devyikanurjanah.blogspot.com said...

dan aku juga terinspirasi dengan WSATCC. . setiap perjalanan dengan vespa ku ditemani lagu kalian, terasa klasik walaupun aku lahir d tahun 90an